Kenapa bertahan di TOXIC Relationship

Toxic relationship adalah jenis hubungan yang tidak sehat (termasuk dalam hubungan pernikahan maupun hubungan pra-nikah), karena menggambarkan hubungan yang dibangun di atas konflik, persaingan, dan kebutuhan seseorang mengendalikan orang lain bahkan manipulatif.

Sifat manipulatif, mengutip dari Time, adalah strategi psikologi yang tidak sehat dan digunakan untuk mengendalikan orang lain.
Ada dua jenis orang yang manipulatif yaitu pelaku dan korban.

Setidaknya ada tiga faktor yang terlibat dalam perilaku manipulatif.
Faktor tersebut adalah rasa takut, kewajiban, dan rasa bersalah. Saat dimanipulasi, Anda mungkin merasa takut dan bersalah, tetapi tidak mampu menolak karena merasa berkewajiban.

Bersumber dari Psychology Today, pasangan yang manipulatif cenderung tidak mau mendengarkan pendapat Anda. Saat Anda mencoba memberikan pendapat, pasangan sering memotong atau tidak peduli dengan perkataan Anda.

Atau, saat sedang berbincang berdua, pasangan lebih mendominasi percakapan. Ketika Anda mencoba untuk bercerita, dia selalu menyanggah dan merasa ceritanya lebih penting.

Orang yang manipulatif cenderung bertindak berlebihan saat “miliknya” didekati atau diganggu orang lain.

Fakta apa saja yg biasanya terdapat dalam hubungan ini :
✔ dibohongi
✔ dimanipulasi
✔ dimanfaatkan
✔ diremehkan
✔ dikhianati
✔ tidak dipercaya

Dalam toxic relationship, Anda akan terus-menerus merasa sedih, cemas, marah, atau lelah dengan hubungan Anda.
Sudah saatnya melakukan refleksi tentang hubungan Anda dan memutuskan ke mana Anda akan pergi.

Apakah Anda pernah merasakan pasangan Anda seperti ini…?

✅ Merasa selalu benar (tidak mau disalahkan).
Bagi pasangan Anda, dirinya tak mungkin salah. Pasti yang salah adalah Anda, orang lain, atau keadaan. Tak heran jika pasangan pun sering memutarbalikkan keadaan hingga dia tampak jadi korbannya.
Pada akhirnya posisi Anda lah yang selalu salah karena tidak bisa memahami maksud pasangan. Pasangan Anda akan mengkondisikan bahwa seolah-olah supaya kelihatannya Anda lah yang memulai permasalahan.

Orang yang bersangkutan pintar mencari celah dan memainkan kata-kata sehingga Anda sulit beradu argumen dengannya.

✅ Memanfaatkan rasa kasihan
Memunculkan rasa kasihan dan empati menjadi modus untuk memanipulasi Anda. Pasangan yang manipulatif akan menciptakan situasi dimana Anda akan merasa iba dan kasihan pada dia.

Dari rasa simpati tersebut, secara tidak sadar Anda membela pasangan dan memaklumi semua tindakan manipulatif pasangan.